Memaafkanmu Sekali Lagi


 ***

Aku bukan Tuhan. Wajar saja jika aku masih sulit untuk memaafkan.


Bagi makhluk yang memiliki emosi, merupakan pengalaman yang wajar ketika kita marah, sedih, dan cemburu. Marah karena sesuatu berjalan tidak semestinya, dan kita ingin mengatakan bahwa itu salah. Sedih karena situasi buruk yang terjadi, dan kita membutuhkan pertolongan. Cemburu karena keberadaan kita terancam oleh kehadiran yang lain, dan dapat menghancurkan hubungan kita dengan significant others.


Dan segala perasaan-perasaan menyakitkan yang hilang timbul dan menyesakkan dada.
Begitu sesak.

Mengapa kita merasa sesak?
Seseorang mengatakan padaku bahwa emosi tak ubahnya seperti seorang tamu. Senang, sedih, marah, cemburu, iri, takut, cemas, jijik, malu, cinta, dan kehilangan. Iya, cinta dan kehilangan memang tak mungkin bisa dipisahkan, sebab mereka begitu dekat. Dan segala emosi yang diawali dengan “Aku rasa…”, akan datang silih berganti. Mengetuk rumah kita, bertamu di sana, kemudian pergi. Layaknya seorang pemilik rumah, kita seyogyanya memberikan ruang yang cukup luas di hati kita. Tentu saja, untuk para tamu tersebut.


Tetapi kita malah memberinya ruang yang begitu sempit.


Kita memberi ruang yang terlalu sempit pada kekecewaan. Kita memberi ruang yang terlalu kecil pada kesedihan dan kemarahan. Seakan tidak ada celah di antara ruang kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan.
Akibatnya, kita merasa begitu sesak.

Sekarang aku paham, mengapa dia memintaku untuk legowo, berlapang dada. Barangkali, agar aku tidak merasa sesak karena merasa kecewa, sedih, dan marah. Barangkali, ia ingin menyampaikan bahwa semua emosi itu adalah suatu keniscayaan. Atau barangkali, ia berharap agar aku memberi ruang pada semua emosi menyakitkan yang ada dan memaafkannya. Seperti Tuhan yang mudah memaafkan. Sebab Dia Maha Besar, mudah memberi ruang yang lapang pada semua dosa-dosa hambaNya.

Ternyata memaafkanmu tidak sesulit itu. Sebab memaafkanmu adalah memberi ruang pada kekecewaan, kesedihan, dan kemarahaan.

2 komentar