Banyak Masalah? Enjoy aja!




Suatu kali, seorang guru agama saya pernah bertanya kepada saya dan teman-teman. Beliau menanyakan adakah di antara kami semua yang ingin terbebas dari masalah. In other words, we have no problem at all, tidak punya masalah sama sekali. Sebagian besar mengangkat tangan. Ada yang ragu-ragu, ada yang penuh kepastian. Saya menerka-nerka, ke mana arah pembicaraan guru saya tersebut. Tak lama kemudian, beliau berkata:

“Orang yang tidak punya masalah adalah orang yang sudah meninggal. Semua masalah di dunia ini sudah selesai. Kalau orang yang punya 1 masalah saja, disebut orang gila atau yang tidak punya akal sehat. Ya masalahnya hanya itu, tidak bisa berpikir sehat. Kalau sudah bisa berpikir sehat, sudah bisa menentukan realita dan khayalan, salah dan benar, baik dan buruk, maka dengan sendirinya merasa punya banyak masalah. Jadi mau milih menjadi orang yang tidak punya masalah, masalahnya hanya 1, atau banyak masalah?”

Tentu saja, kami semua memilih menjadi yang berakal sehat, tapi sedikit masalah. Tapi kalau punya banyak masalah bagaimana? Oh tenang saja, darling. Saya akan menjabarkan tips oleh Pamela D. Garcy, PH.D untuk meringankan beban kita saat menghadapi masalah. Here we go!


1Berhentilah terlalu serius menanggapi suatu masalah. Bahasa kerennya, chill out. Setting kendor. Yakinlah bahwasannya semua akan indah pada waktunya.

2. Percayalah bahwa semua hal di dunia ini berubah. Seperti kata Mahatma Gandhi, satu-satunya ketetapan dalam hidup adalah perubahan. The true constant is change. Tidak ada sesuatu yang selamanya menetap. There’s no forever on the temporary nature of life. Pokoknya, segalanya akan berubah. Termasuk, masalahmu. Jika dunia ini saja berubah, maka, komponen-komponen dalam masalahmu juga turut berubah, yang mungkin menjadi lebih baik.

3. Bayangkan saat-saat ketika masalah telah selesai. Kita bisa mengingat-ingat pengalaman saat kita menghadapi suatu masalah, dan kita berhasil melaluinya. Kita bisa membayangkan ketika kita mendapatkan solusi yang tak terduga. Optimislah bahwa kita pasti bisa menemukan cara untuk mengatasinya. Dulu saja bisa, mengapa sekarang tidak?

4. Lakukan meditasi. Ambil jeda pada rutinitasmu untuk sekadar menutup mata, mengingat saat-saat yang mendamaikan diri kita. Nikmatilah dan berdamailah dengan keadaan. Kita juga bisa beribadah untuk meningkatkan kedamaian dalam diri kita.

5. Tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menyelesaikan masalah. Sebab, pikiran yang rumit akan menghasilkan hormone stress. Hal ini membuat kita sulit mendapatkan gagasan baru. Kreativitas cenderung muncul saat kita dalam keadaan tenang.

6. Tertawalah. Ketawain aja. Kadang, hidup itu cuma butuh ditertawakan. Semakin “receh” semakin bagus. Tidak perlu cemas dianggap selera humor rendahan. Mau ketawa aja kok harus mikir serius. Yeu.

7. Pahamilah bahwa saat kita menghadapi masalah, ada keterampilan yang berkembang. Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dapat membentuk karakter kita. Bisa jadi saat kita menghadapi masalah, kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih waspada, dan sebagainya.

8. Luangkan waktu bersama teman yang dapat membebaskan pikiran. Bersama teman atau orang-orang yang mendukung kita akan memberikan “angin segar” dalam kerumitan pikiran kita. Kita bisa mendapatkan sudut pandang baru yang berguna dalam menghadapi masalah.

9. Berbahagialah. Kita bisa berjalan-jalan melihat alam bebas, menonton film, memasak resep baru, mendengarkan music, dan aktivitas lain yang menjadi mood booster kita. Kita juga bisa mendalami atau mengasah hobi kita. Hal ini dapat membuat kita menguasai (mastery) aktivitas tersebut dan juga mendatangkan kebahagiaan yang dapat membuat mood menjadi positif.

10. Merawat diri. Ambilah jeda untuk tidur sejenak di kala padatnya aktivitas, meditasi, olah raga, pergi ke tukang pijat, atau luluran. Lakukan hal-hal yang membuat diri menjadi nyaman dan sehat.

          Intinya, jalanin aja dulu. Sebab seringkali yang membuat masalah menjadi besar dan rumit adalah pikiran kita sendiri. Kalau kata Eckhart Tolle, all problems are illusions of the mind. Kok bisa?
Because problem is the gap between expectation and reality.
Yes, reality does not hurt you. Your expectation does.
Really? Think again.

Tidak ada komentar