Setiap Adik, Berhak Memiliki Kakak


Sejak saya kuliah, momen kepulangan selalu menjadi agenda penting yang harus diisi dengan banyak hal, termasuk bertemu dengan banyak orang. Dalam satu hari, biasanya saya punya agenda berbincang dengan 3 orang. Jika tidak memungkinkan, saya harus menjadwalkan ulang di lain waktu.
Apa yang menjadikannya tidak memungkinkan?
It's her. My lil sister.
Setiap pulang, harus ada agenda untuk sekadar mengajaknya motor-motoran. Kemanapun, semau dia dan semampu saya. Entah hanya ke alun-alun, atau mengajaknya ke bioskop. Sekali saja saya mencoba mengganti rencana awal, rusak air sebelanga. Berhari-hari saya harus mengosongkan jadwal, agar sewaktu-waktu dia "bombong", atau moodnya lagi bagus, saya siap mengajaknya jalan-jalan.
Contoh lain, setidaknya minimal 1 kali setiap kepulanganku, ia meminta saya untuk mengantarnya ke sekolah. Mengantar di hari pertama dia sekolah sampai di depan kelas. Atau sekadar mendaftarkan dia ke lembaga bimbingan belajar.
Belum lagi jika saya pergi dan dia pesan jajan, entah makanan yang lagi hitz atau minuman kesukaan dia. Kalau tokonya tutup, saya harus mencari alternatif jajanan lain yang sama enaknya. Atau kalau saya benar-benar lelah, saya harus siap menawarkan makanan sore hari di desa saya. Sebagai contoh, suatu malam saat hujan deras, ia keukeuh minta dibelikan mie ayam. Meski petir sedang menyambar kesana kemari.
-
For my dearest lil sister:
Sebagai kakak, aku tidak bisa memenuhi segala yang kamu minta. Tapi setidaknya, kamu berhak atas hal paling berharga yang aku miliki.
Kamu berhak atas waktuku.
Because you have me, you have my time.

Cheers,
Mbak Itis.


Tidak ada komentar