AHOK

 

Sebut saja Ahok.

Tentu bukan Pak Ahok beneran, tetapi Ahok yang lain.

 

Ahok ini adalah orang yang selalu membuat aku bingung, dari pertama kali temu sampai sekarang. Hubungan dekat tapi seperti bukan teman biasa ya cuma sama Ahok ini. Barangkali yang membuat Ahok mau berhubungan denganku adalah karena persona aku yang dia lihat dari jauh, dulu. Persona aku yang kebetulan mungkin terlihat mirip dengannya. 

 

Suatu kali dia pernah bilang,

 

“Kalau saja aku bisa memenangkanmu.”

 

Ahok, tidak semua di dunia ini adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Apalagi aku bukan piala, tidak perlu menang untuk bisa memilikiku. 

 

“Anggaplah aku belum berkomitmen dengan orang lain, apa yang akan kamu lakukan?”

 

Hok, artinya kamu sudah jatuh cinta padanya. Laki-laki yang mau berkomitmen itu sama sulitnya seperti perempuan yang menolak untuk ke atas ranjang kalau sudah jatuh cinta. Itu bagian tersulit, Hok. Aku tahu paradigma semacam ini tahun 2018 lalu, saat nonton TEDx Talks tentang bagaimana otak bekerja saat kita jatuh cinta. Jadi, itulah alasan dari jawabanku.

 

Aku tidak (boleh) menginginkan yang menjadi milik orang lain.

 

Meskipun kalau kamu ingat, Hok.

Aku tidak pernah mengunggah foto berdua dengan laki-laki, kecuali denganmu.

Aku tidak pernah memperkenalkan seseorang pada orang lain, kecuali kamu.

Aku tidak pernah menunjukkan sosok seseorang pada publik, kecuali kamu.

Aku tidak suka menghabiskan waktu dengan berdua kemana saja kalau-kalau hatiku menolak.

 

Kamu sudah aku pilih sedari dulu.

Kalau-kalau kamu salah sangka.

 

Tapi ya kenyataan memang selalu menamparku.

Nyatanya kamu pergi.

 

 

 

 

Tidak ada komentar