Kaus Kaki Berlubang


Aku memasuki gerbong Kereta Rel Listrik di suatu malam, bersamaan dengan orang pulang kerja. Entah kenapa, aku memilih untuk duduk di samping seorang nenek yang membawa sebuah bingkisan di pangkuannya. Saat itu, kereta dipenuhi oleh pria-pria muda lengkap dengan pakaian kerjanya. Karena itu, keberadaan nenek ini sangat kontras: ia memakai sandal dan pakaian lusuh. Setelah aku duduk di sampingnya, tercium aroma khas nenek-nenek yang sudah bercampur asap dan segala yang terkandung di udara Kota Jakarta.

 

Aku duduk dengan cukup nyaman. Namun, nenek di sebelah saya ini, terlihat seperti tidak nyaman. Masih tergambar jelas di ingatanku saat ini, ia mencoba menggeserkan badannya agar tercipta jarak denganku, dan orang di sebelah kanannya. Ia mencoba merangkul tas bingkisannya, menarik mundur kakinya, sedikit membungkukkan badan, dan menundukkan kepala. 

 

Entah kenapa, muncul perasaan tertentu yang telah lalu. Aku merasa gerak gerik nenek itu lekat denganku di masa lalu. Aku tidak asing dengan gerak geriknya, dan perasaan yang menyeruak karenanya. Aku mencoba mengingat, perasaan apa tepatnya.

 

Insecure. 

Minder.

Rendah diri.

 

Ada suatu masa ketika aku sangat dekat dengan jenis perasaan semacam itu. Merasa berada di tempat yang salah karena semua terlihat berkilau, cemerlang, dan segala kualitas yang membuat aku merasa seperti kaus kaki berlubang. Perasaan yang membuat kita ingin menyembunyikan diri dan tak terlihat.

 

Barangkali tidak hanya aku, dan nenek di sampingku malam itu. 

 

Tetapi apa poinnya, Tis?

 

Begini.

Asumsikan bahwa nenek tersebut benar memang merasa bak kaus kaki berlubang. Dari gerak geriknya yang seolah ingin menyembunyikan diri. Tetapi aku, sebagai orang lain yang tak berjarak duduk di sampingnya, merasa tidak ada sesuatu yang salah. Aku mencium aroma khas yang kuat, iya. Aku melihat apa-apa yang beliau kenakan, juga iya. 

 

Tapi tak mengapa.

Bukankah tidak ada kesempurnaan dalam kehidupan ini?

Bukanlah suatu kehinaan ketika kurang uang, kurang wangi, atau kurang cantik.

 

Dan, aku yakin, orang lain juga begitu terhadapku dulu. Ketika aku ingin sekali menyembunyikan diri karena kurang cantik atau kurang uang, saat itu pula mungkin orang lain memakluminya. 

 

Jadi untuk kamu yang saat ini sedang merasa layaknya kaus kaki berlubang, kamu perlu ingat bahwa tidak ada suatu kehinaan saat kurang uang, atau kurang cantik. Kita semua, cukup, bagi orang-orang yang ditakdirkan untuk kita.

Mereka yang menyoalkan memang bukan untukmu, itu saja. 

 

Depok, pada suatu malam yang lebih pekat, 2018.

Tidak ada komentar