Rahasia Hati

 


I wanna love you like the hurricane

I wanna love you like a mountain rain

So wild so pure

So strong and crazy for you

 

Entahlah aku akan menulis apa saat ini.

Rasa-rasanya hatiku kalang kabut tidak karuan karena sesuatu yang aku rasakan sendiri. Apa lagi kalau bukan perkara hati, yang sudah pernah aku tulis di sini dan di sini. Aku paling tidak suka jenis perasaan semacam ini. Rasanya mau meledak.

 

Beberapa kali aku bertanya kepada teman-teman dekatku, mengapa bayangan tentang dia mudah sekali muncul dalam benakku. Sepanjang aku tertarik dengan pria, tidak ada yang sampai bisa menguasai benakku. Bahkan orang yang jelas-jelas sudah menghabiskan waktu bersama sekalipun, berbincang selama berjam-jam, tidak bisa muncul dalam benak. Benar-benar tidak bisa, dan tidak ada dorongan alamiah untuk itu juga nampaknya. 

 

Tapi untuk kasus yang satu ini, benar-benar mengganggu.

Aku baru paham seperti apa rasanya lirik lagu Bunda Maia, mau makan kuingat dia. Mau kerja kuingat dia. Mau tidur juga kuingat dia. Astaga, apa-apaan. Aku tidak pandai memvisualisasikan sesuatu, kecuali soal ini. 

 

Aku bahkan masih ingat foto yang ia bagi bersama ibunya saat Idulfitri. Ia menelungkupkan tangan, mengenakan kemeja lengan panjang berwarga gelap entah ungu atau biru tua, dan celana bahan. Serta ibunya yang memakai semacam turban.

Aku juga masih ingat saat ia mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabatnya, Jorji. Ia foto bertiga, dan seingatku dia memakai kemeja putih. Sambil tersenyum, tentunya.

 

Bayangkan.

Aku sudah gila karena mengingat semua itu. Bahkan aku tidak pernah berniat untuk mengingatnya. 

 

Beberapa hari ini, setelah dia menyelesaikan tugasnya sebagai delegasi di acara OYW 2021, dia tidak begitu aktif berbagi sesuatu di IG Story. Aku sempat bertanya-tanya, kemana dia? Apa kabarnya? Tapi untungnya, siang tadi dia membagikan satu unggahan dari Narasi tentang isu yang sebetulnya juga menjadi kepedulianku. Tentu saja, aku tidak menanggapi apapun karena sudah pasti dia juga enggan berdiskusi denganku. Tapi tak apa, setidaknya aku tahu bahwa dia masih ada dan aku bisa menyelami secuil dari isi pikirannya.

 

Jujur saja, saat aku membaca buah pikirannya selama acara OYW 2021 itu aku cukup kewalahan. Kemahiran dia dalam berbahasa inggris dan topik yang dibawa membuat diksi yang ada dalam tulisannya terasa asing bagiku. Juga karena gaya tulisannya yang memang membutuhkan waktu untuk dicerna. Contohnya, dia suka menulis dengan kalimat majemuk sehingga membuat kalimatnya menjadi panjang.

 

Tapi, itu jauh lebih mending daripada aku tidak bisa menyelami pikirannya sama sekali.

Kadang, saat aku sedang ada di pucuk rindu, aku mampir saja ke akun Instagram kantornya. Aku bisa membaca dan menonton ulang kegiatannya selama OYW 2021. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan bernasib begini, yang diam-diam memperhatikan seseorang dan tidak ada nyali sedikitpun untuk mengatakan apa-apa. 

 

Tapi ya, aku seperti sedang menunggu bom waktu saja.

Aku harus siap patah dan hancur berkeping ketika tiba-tiba misalnya dia menikah dengan orang lain. Seperti yang kita tahu bahwa tidak ada pria yang betul-betul single. Meskipun di media sosialnya tidak ada tanda-tanda sudah memiliki kekasih, tapi aku yakin betul bahwa ada perempuan dalam hidupnya. Atau laki-laki? Tidak tahu juga. Yang pasti, sudah ada seseorang yang menjadi kekasih hatinya. Entah laki-laki atau perempuan.

 

Buat teman-teman yang membaca tulisan ini, akhirnya jadi paham ya sisi personal aku yang tidak aku bagi di Instagram. Aku yang di luar terlihat fearless, tapi justru tidak punya nyali untuk urusan seperti ini. Apa ya, kadang-kadang aku merasa hopeless juga menjadi solo player terus menerus. Kadang aku butuh untuk memberikan dan menyalurkan cinta yang aku punya. Bukan kadang sih, most of the time. Tapi ya apa mau dikata, nasib belum beruntung. 

 

Ya, tidak apa-apa.

Barangkali, romance is not my thing.

Untuk saat ini, mungkin memang nasibku adalah dicukupkan dengan hanya tahu kabar dia dari media sosial. Tanpa diberi kesempatan untuk bertemu atau berkomunikasi, sekali lagi. 

 

Entah kenapa mataku selalu memanas ketika menulis soal kesempatan.  Apa ya, rasanya menyesakkan sekali ketika tahu bahwa dunia tidak memberiku kesempatan sekali saja untuk bisa bertemu dengannya sekali lagi. Sekali saja. Atau bahkan satu detiiik saja. Rasanya aku ingiiiiiiiiin sekali. Dia tidak perlu melihatku, cukup aku saja yang melihatnya. Meski hanya sekelebat pandangan.

 

Ah sudahlah.

Aku jadi menangis, kan. 

Tapi tidak mengapa, setidaknya perasaanku sudah lega hanya dengan menulis ini. Tulisan yang tidak akan pernah ia baca, so I have nothing to worry about. 

 

Untuk siapapun yang berkenan membaca tulisan ini, aku cuma ingin kamu tahu bahwa dia adalah pria yang hebat. Aku tidak punya kesempatan untuk mengenalnya, tapi aku percaya bahwa dia akan terbang tinggi, menggapai apa-apa yang dia impikan.

 

 I wish him the best of all this world could give.

 

Tidak ada komentar