Jalan Panjang



Dalam hidup, nampaknya kita lebih cocok jika menjadi seorang pelari marathon, alih-alih sprinter. Kita tidak hanya harus menempuh ratusan meter, tapi puluhan kilometer. Bahkan ratusan kilometer barangkali, sebab tidak ada jalan hidup yang linear. Umumnya ya muter-muter dulu, kan. 

 

Setelah 24 tahun menjadi sprinter, aku merasa lelah juga. Setelah pendidikan magister selesai dengan aku yang juga bekerja penuh waktu, aku merasa akan mati jika terus begini hingga puluhan tahun ke depan. Bayangkan, selepas pertengahan Agustus ini aku resmi lulus, aku pun masih memiliki agenda di akhir pekan. Baru pada bulan September ini, yang mana sudah 2 pekan ini, aku mengosongkan jadwal akhir pekan untuk diriku sendiri. Aku menunda beberapa agenda karena aku butuh menikmati tidur tanpa pikiran agenda esok hari, materi-materi, dan lainnya. 


Pagi ini, aku merasa bangun dengan kondisi yang nyaman luar biasa. Tidur nyenyak, tidak ada agenda apapun di akhir pekan, dan hanya berbincang ringan dengan teman baik. Aku maskeran dan merasa cantik sekali dengan mengenakan kaus putih polos setelah dua pekan rasanya tiada hari tanpa menggunakan kaus hitam polos. Entah kaus, baju, atau blouse hitam polos. Bukan, bukan karena aku tidak ganti baju. Tapi memang tahu-tahu aku punya lebih dari selusin baju atau kaus hitam polos (info tidak penting tapi aku tetap ingin mengatakannya). 

 

Teman baikku bercerita tentang sesi coaching yang dijalaninya pagi tadi bersama seorang VP di PT Pertamina (Persero). Aku senang sekali mendengarnya bersemangat untuk terus belajar, sebagaimana yang selama ini aku rasakan. Lalu aku teringat sesuatu yang sedang aku upayakan juga yaitu menjaga ritme kehidupan. 

 

Kadangkala, kita merasa terlalu panik atau emosi lain sehingga ingin melakukan sesuatu sesegera mungkin. Panik melihat teman sudah mencapai posisi tertentu dalam karir, lalu tergesa-gesa untuk meningkatkan keterampilan tertentu dalam waktu secepat-cepatnya. Seperti yang sering diinginkan oleh teman-temanku saat aku mengisi kelas public speaking. Sebagian dari peserta seringnya ingin memiliki keterampilan yang minimalnya seperti aku, seusai kelas. 

 

Apakah bisa?

Tentu tidak. 

 

Aku sudah pidato di depan ratusan orang sejak kelas 4 SD, bahkan saat usia aku masih 9 tahun karena aku masuk SD umur 5 tahun. Pada saat kelas 4 hingga kelas 6 SD, aku tidak pernah absen memberikan pidato perwakilan angkatan. Belum soal penampilan lainnya seperti percakapan dalam Bahasa Arab. Lanjut saat SMP, aku juga menjadi MC acara kelulusan senior, menggunakan Bahasa Arab. Tambah intens lagi sejak SMA dan kuliah karena kau tidak pernah lepas dari organisasi. 

 

Saat kuliah, aku tidak absen jika ada agenda sosialisasi perguruan tinggi di sekolah-sekolah. Juga menjadi pembicara dalam acara-acara yang diselenggarakan adik-adik SMA atau SMP. Memandu sesi seminar dengan para pejabat, melakukan ratusan presentasi, dan sebagainya. Sejak aku baru berusia 9 tahun hingga sekarang. Yes, 15 tahun. 

 

Apakah proses yang aku jalani selama 15 tahun akan bisa digantikan dengan training 1.5 jam? Tidak kan? 

Kalau pun ingin bersungguh-sungguh berlatih dalam waktu satu bulan, misalnya. Tetap tidak akan berhasil. 

 

This world doesn’t work that way.

 

Kenapa?

 

Keterampilan personal itu adalah softskill. Softskill adalah keterampilan yang didapatkan melalui trial and error, diaplikasikan sesuai dengan konteks, dan tidak ada panduan baku. Untuk bisa melakukan public speaking dengan efektif, dibutuhkan pengalaman langsung berhadapan dengan audiens dari berbagai macam latar belakang, jumlah, situasi atau setting tempat, dan lainnya. Kita akan tahu letak kesalahan yang kita lakukan, bagaimana memperbaikinya, dan bisa diaplikasikan untuk audiens yang seperti apa. Itu juga tetap akan ada kesalahan dalam public speaking yang kita lakukan. Meskipun, semakin tinggi jam terbang, tentu kualitasnya akan semakin baik. Tapi tetap, tidak ada yang sempurna. 

 

Kok gitu?

 

Ya, kita ini manusia dan bukan robot. Salah satu faktor yang membuat kita melakukan kesalahan adalah emosi dan memori. Kita bisa merasa jengkel, lelah, marah, dan lainnya yang memengaruhi tingkah laku kita, termasuk saat public speaking atau dalam proses belajarnya. Jika terlalu ngoyo, kita bisa mudah lelah dan ingin berhenti belajar. Apalagi saat kita terus melakukan kesalahan dan tidak mencapai target yang diinginkan. Akhirnya, proses belajar kita tidak bertahan lama dan hanya musiman.

 

Begitu pula dengan proses kehidupan lainnya, yang kurasa juga perlu dinikmati agar kita sanggup untuk menjalaninya lebih lama. 

 

Sekarang, aku tidak lagi terburu-buru ingin menyelesaikan segala hal dalam jangka pendek. Bahkan aku sudah tidak ragu lagi untuk menempatkan beberapa mimpi dalam target jangka panjangku. Bahkan, aku ingin untuk menikah dalam rentang waktu 2-3 tahun lagi. See, sesuatu yang krusial seperti pernikahan pun aku sudah yakin untuk menempatkannya dalam kurun waktu tersebut. Lalu bagaimana respon orang tuaku?

 

“Akhirnya kamu nyadar juga.” Jawab ibuku.

 

Iya, ibuku paling paham kalau aku tipe yang ingin sesegera mungkin menyelesaikan sesuatu. Sebelum aku S2 dulu, aku merasa menikah di usia 27 tahun itu bak mimpi buruk. Tapi setelah melewatinya, rasanya sekarang aku bahkan tidak butuh pria untuk menemani keseharianku. Bahkan sudah lama aku tidak menjalin komunikasi rutin dengan teman-temanku yang laki-laki karena aku merasa sudah cukup dengan para ladies lucu. Apalagi, kalau aku sudah menginginkan seorang pria, aku sulit untuk berpaling kalau dia masih single. Aku baru membuka pintu bagi orang lain jika seseorang yang aku inginkan sudah betul-betul menikah. 

 

Emang dasar kepala batu, kadang-kadang.

Selama ini, aku tipe orang yang kalau iya-iya tidak-tidak. Aku tidak bisa tarik ulur dalam PDKT seperti saran kebanyakan orang. Kalau aku tidak tertarik, aku akan langsung bilang terus terang. Jika tertarik, nah ini yang sulit. Justru kalau aku tertarik, butuh waktu lamaaaa sekali untuk bisa berani terus terang. Bahkan bertahun-tahun. Selama memendam perasaan itu, aku pun tidak bisa melakukan semacam cek ombak untuk berteman dulu, atau ajak ngobrol dulu, dan lainnya. Aku tidak bisa berteman dengan seseorang yang aku suka. Makanya aku akan menjadi sangat serius when it comes to love karena ya aku tidak pernah main-main dalam perasaan. 

 

Tapi, menyadari soal jalan panjang kehidupan ini, aku jadi berusaha tidak sat set sat set dalam romansa juga. Tidak semua orang yakin dengan perasaannya seperti aku. Ada banyak orang yang butuh waktu lama untuk mengembangkan perasaannya, untuk mengetahui apa yang dia butuhkan, dan sebagainya. Dan, karena ini aku juga berharap bahwa perasaan seseorang juga berkembang terhadapku. Khususnya seseorang yang ada dalam hatiku. Harapannya begitu, tapi ya aku serahkan pada Tuhan saja kalau sekarang. Biar Tuhan yang mempertemukan aku dengan seseorang yang match with my energy, as he said. Kalau ternyata baru dipertemukan 2 atau 3 tahun lagi, aku tidak keberatan. 

 

Sebagaimana aku tidak keberatan untuk memperjuangkan mimpiku yang lain, bahkan mimpi jangka panjang sekalipun. Yang ingin aku capai dalam waktu 10 atau 15 tahun lagi. Mimpi yang aku inginkan bisa dicapai dalam waktu 10-15 tahun mendatang saja aku tidak ingin terburu-buru, apalagi hanya 2-3 tahun untuk seseorang yang akan menjadi my other half? Seseorang yang bukan hanya menjadi salah satu mimpiku, tapi juga akan menjadi bagian dari diriku. Seseorang yang akan aku baktikan hidupku untuknya, karena kecintaanku terhadapnya. Seseorang yang aku izinkan untuk memasuki sisi personalku, saat yang lain bahkan tidak bisa mendekatinya.

 

Jadi, aku sudah siap untuk menempuh jalan panjang kehidupan ini. Jalan yang hanya bisa ditempuh dengan kesabaran, ketekunan, keikhlasan untuk melewati proses, dan api semangat yang tidak akan padam. Agar bisa tahan lama, ya jangan terburu-buru menghabiskan semuanya saat ini. Tidak perlu terlalu berkobar karena bahan bakarnya akan cepat habis. Yang penting pastikan ia tetap menyala dan menjadi penggerak kita untuk terus berproses dan berprogres, sepanjang sisa hidup kita. 



Apakah kamu juga begitu?

 

Tidak ada komentar