SERVE TO DESERVE

 


 

WHAT SHOULD I SERVE TO DESERVE SOMEONE LIKE YOU?

 

Akhirnya aku menulis lagi karena aku sudah tidak kuaaaaaaaattttttttt. Ya, buat kamu (padahal orang yang aku maksud tidak akan baca), please stop being lovely! Please, stop! Please, stop cause I can’t handle this bomb inside my heart.

 

Well, kita memang tidak berkomunikasi. Tapiiiiiii, kontak kamu tuh aku pin di roomchat WhatsApp-ku dan otomatis kamu jadi paling atas. Karena itu, setiap kamu ganti foto profil, AKU PASTI LIHAT. Jadi, aku sudah lihat foto kamu yang bikin orang kalang kabut itu. AKU SUDAH LIHAT DAN AKU TIDAK TAHAAAAAAAN. Ini adalah definisi target salah alamat. Yang ditarget kamu siapa, yang jatuh hati setiap hari justru aku. SALAH ALAMAT BANGET!

 

Dua hari yang lalu, saat aku buka HP setelah bangun tidur, aku lihat foto profil kamu ganti. Selfie saat pakai ojol yang bikin aku aduh-aduhan. Lalu pagi tadi, saat aku buka akun Instagram kamu, aku jadi ingat bahwa kamu ‘kan “body pump enthusiast.” Saat itu aku sempat berpikir, apakah kamu masih seperti yang kamu tulis di bio? Well, aku mencoba muter-muter agar aku tidak terlihat seperti physic-oriented person. Sore ini, apa-apaan kamu ganti foto profil yang… bikin gerah begitu? Astaga ya Tuhan tolong. Please, stahp!

You know, sudah dua pekan ini aku merasa benar-benar zen banget dalam menjalani hidup. Rasanya aku tidak menginginkan apa-apa lagi selain menginginkan diriku menjadi lebih baik setiap harinya… agar bisa seimbang dengan kamu suatu hari nanti. Atau orang yang karakteristiknya mendekati kamu. Aku suka dengan diriku yang menikmati proses pembelajaran yang aku jalani setiap harinya, sampai-sampai aku tidak terpikir untuk mencari perhatian siapapun. 

 

Lalu setelah lihat foto profil yang ngeselin itu, yang bikin hati dagdigdugduar itu, aku merasa: ASTAGAAA AKU HARUS JADI BIDADARI APA GIMANA INI? 

 

Well, itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab sih. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: 

WHAT SHOULD I SERVE TO DESERVE SOMEONE LIKE YOU?

 



 

Kalau dipikir-pikir, ya banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai bentuk pelayanan. Termasuk, aktivitas yang aku lakukan sehari-hari. Dirasa-rasa, kegiatan-kegiatanku juga merupakan bentuk pelayanan. Meskipun aku tidak pernah terpikir “I have to serve to deserve you” sih. Aku melakukannya karena aku suka. Aku melakukan semua itu karena tanpa direncana aku melakukannya. Barangkali, karena itu juga aku mendapatkan sebuah selamat dari kamu, sekali lagi. Padahal kamu mungkin tahu bahwa percakapan setelahnya akan terasa sedikit canggung but HEY THANK YOU!

 



 

Aku tidak tahu sampai kapan perasaan “jatuh cinta setiap hari” ini akan berakhir. Aku juga tidak mau menyiksa hatiku dengan bayang-bayang kelam di masa depan: masa di mana takdir mungkin tidak mengizinkan kita bersama dan semacamnya. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberi Tuhan untuk mempedulikanmu dan mendoakan keselamatan padamu, setiap harinya. Aku tidak menyia-nyiakan setiap inci perasaan terhadapmu, yang ternyata menjadi obor dalam diriku. 

 

Obor yang membuat aku bersuka cita untuk menjalani hidup dengan sebaik mungkin. 

Menjalani hidup dengan merayakan anugerah dari Tuhan, sebagaimana yang kamu katakan. Aku merasa tidak pernah menghapal setiap kalimat dari kamu, tapi nampaknya semua ototku bekerja sama untuk melakukan apa-apa yang kamu sampaikan. 

 

Aku merasa cukup dengan diriku dan keadaanku, merasa bahagia dengan orang-orang di sekitarku, menggunakan anugerah dari Tuhan untuk berlaku baik pada sesama, dan mengoptimalkan potensi yang aku punya. Quality comes with destiny, right? Entah dengan siapapun nanti aku menghabiskan sisa umur, aku cukup yakin bahwa aku tidak akan kehilangan diriku sendiri. 

 

Oh ya, aku suka sekali ketika kamu menuliskan “you” dalam pesan-pesanmu kepadaku. Aku merasa kamu betul-betul sedang berbicara denganku. Aku harap akan ada ribuan “you” seperti ini di masa depan, dari kamu tentu saja. Itu harapan, apakah nanti realitanya datang dari kamu atau bukan, ya tidak mengapa. Semoga sih dari kamu saja ya, sebab aku tidak menginginkan apa-apa dari orang lain. 

 

Well, I think that’s enough.

Semoga kamu sehat dan bahagia ya. Sebagaimana aku yang tambah sehat dan bahagia karena mencintai kamu setiap harinya, meski hanya lewat doa. Sebagaimana kata Eyang Sapardi,

 

“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”

Tidak ada komentar