The Best Gift



Siapa manusia di zaman modern ini yang begitu girang hanya dengan sebuah ucapan?

Aku. 

Rasanya ingin aku umumkan saat itu juga kepada semua orang bahwa aku sebegitu tidak percaya bahwa orang yang sering aku ceritakan di sini, mengucapkan selamat atas kelulusanku. Dia bahkan menjadi orang pertama. Aku tidak berharap apa-apa pada semesta ini, apalagi sebuah ucapan selamat dari dia. 

 

Aku berterima kasih pada Tuhan yang telah membuatnya bermurah hati mengucapkan selamat padaku. Gesture yang tidak bermakna apa-apa baginya, tapi sangat berarti bagiku. 

 

 

Oke, sebetulnya bukan ini alasan aku menulis. Aku menulis ini sejatinya karena sudah lelah menangis. Meski tidak ada masalah apa-apa dalam pertemanan, keluarga, atau pekerjaan, tapi justru aku menangis. Ya bisa ditebak karena apa. 

 

Kamu mungkin pernah menangis karena mengingat sesuatu yang begitu berharga, tapi dunia tidak mengizinkanmu untuk hidup dengannya. Aku tidak berharap bisa memilikinya, karena kita tidak bisa memiliki apapun dalam hidup ini. Bagiku, hadiah terbaik dalam hidup adalah saat kita berkesempatan melewati detik demi detik bersama apa-apa yang berharga bagi kita. Precious moment with precious one. 

 

Beberapa waktu lalu, seorang teman nyeletuk.

“Ah kamu mah gak pernah liat story-ku.”

 

Salah satu dosa dalam hidup yang harus aku akui adalah bahwa aku tidak tertarik untuk melihat stories orang di media sosial. Hanya orang tertentu saja. Dan yang lebih berdosa lagi, hanya satu orang saja sebenarnya. Tapi karena aku menerima begitu banyak perhatian dari orang-orang atas storiesku, aku merasa perlu belajar untuk lebih peduli juga atas kehidupan sehari-hari mereka. 

 

Lalu apa poinnya?

 

Tidak ada. Aku hanya ingin mengakui bahwa orang yang sering aku ceritakan itu, termasuk di awal tulisan ini, adalah orang yang paling aku pedulikan. Sebut saja ini dosa dalam kehidupan karena seharusnya aku lebih peduli pada orang-orang yang peduli terhadapku. Tapi toh hati tidak bisa kita kendalikan, kadang-kadang.

 

Aku sering tiba-tiba menangis karena… sedih. Aku sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk orang yang sangat berharga bagiku. Aku tidak bisa mengucapkan padanya betapa berharganya dia, setiap hari. Aku tidak bisa menjadi penawar luka bagi kesedihannya, sedangkan orang-orang ingin menceritakan kedukaannya padaku. 

 

Aku bisa memeluk teman-teman yang bersedih, tetapi menyentuh seujung kukunya saja tidak bisa.

Aku bisa mendengarkan kesedihan teman-teman hingga berjam-jam, tapi mendengar dia bercerita dalam satu menit saja tidak bisa.

 

Aku bisa hadir untuk meringankan kesedihan orang-orang, tetapi tidak dengannya.

 

Tapi aku tidak marah pada hidup ini. Hanya sedikit kecewa, tapi lebih banyak sedihnya. Kecewa karena, kenapa pola kehidupan berjalan seperti ini. Bukan hanya aku yang mengalami, tapi milyaran manusia. Dan, sedih. Sedih karena ya mau bagaimana lagi? 

 

Aku belajar untuk memodifikasi perilaku, tetapi aku paling tidak bisa untuk merekayasa hidupku sendiri. Orang-orang memberiku segudang tips agar bisa menarik perhatian pria, tapi tidak ada satupun yang aku lakukan. Ya aku lakukan apa yang dikehendaki oleh hatiku saja.


Termasuk, memuji seorang pria.

Hampir semua teman-teman menyarankan agar aku memuji pria agar mereka senang. Tapi, kalau teman-teman memperhatikan kehidupan media sosialku, hanya satu orang yang aku puji. Hanya satu orang yang aku puji di Instagram Story, di depan publik. Well, dalam ranah privat juga aku bukan people pleasure

 

Ya, hanya dia. 

Rasanya ingin aku umumkan pada semua orang betapa hebatnya dia. 

Tapi ya, tidak mungkin aku lakukan karena pasti akan mengganggunya. Tidak mungkin aku sengaja melakukan hal-hal yang tidak berkenan baginya. Barangkali dia pernah merasa begitu, yang sudah barang tentu karena tidak sengaja.

 

Terlepas dari apapun yang terjadi, aku merasa perlu berusaha adil pada kehidupan. Setidaknya dalam benakku terlebih dulu. Selama ini aku merasa lebih banyak sedihnya kan, ketika mengingat dia. Tapi setidaknya aku tidak marah pada Tuhan. Aku tetap merasa perlu berbahagia karena jalan hidup kami pernah bertemu di satu persimpangan. Yang membuat aku ingin mengenalnya dan memahaminya, lewat informasi umum yang tersaji di media. Hal ini juga yang membuatku punya banyak keberanian dan kekuatan. Berani untuk berusaha seperti dia. Berusaha kuat seperti dia. Barangkali tidak mungkin sih bisa seperti dia, ya setidaknya ada kualitas-kualitas yang mirip. Setidaknya aku berusaha.

 

Aku pernah bilang padanya bahwa ia pantas berada bersama bintang-bintang (tentu ini kiasan). Karena itu  juga, aku berusaha untuk menggapai bintang. Kalaupun tidak bisa aku capai, setidaknya aku bisa berada di atas genteng. Wkwkwkwkwkkw tentu bukan dong. Di atas Burj Khalifa maksudnya, karena aku ingin sekali tinggal di Dubai. 

 

Jadi, terlepas dari kesedihan yang aku rasakan belakangan ini, aku merasa dia tetap hadiah terbaik dari Tuhan. Meskipun aku sedih karena tidak dalam kondisi terbaik saat dulu bertemu dengannya, tapi aku bersyukur bahwa pertemuan itu pernah terjadi. 


The best gift in life is that I met him once in a lifetime. 

 

*Tolong jangan menyesal membaca tulisan yang sangat ngalor ngidul ini karena pikiranku memang sedang tidak karuan.

 

Tidak ada komentar