Being Rejected

 


Dalam sebuah commencement speech, Iman Usman bercerita tentang petualangan hidupnya menghadapi dunia yang penuh penolakan. To tell the graduates that this world is full of rejection and being rejected is totally normal.


Menghadapi penolakan memang tidak pernah mudah. Seseorang bisa menjadi depresi hingga mengakhiri hidup karenanya. Padahal, ini adalah momen yang akan dihadapi semua orang. Tapi mengapa kita begitu terpuruk?


Sebab kita terlalu mementingkan nilai orang lain, kata Garry Vee. Kita bergantung pada nilai subjektif seseorang, yang bisa saja sangat berbeda dengan kita. Perbedaan nilai ini yang membuat kita ditolak karena dianggap tidak cocok dengan kriteria mereka.


Saat kita ditolak, itu bukan karena kita tidak diterima oleh dunia ini. Kita hanya tidak cocok dengan nilai orang tersebut. Dunia ini tetap dengan senang hati menerima nilai baik kita.


Aku jadi teringat kembali penolakan yang pernah aku terima. Pengalaman penolakan ini menjadi titik balik bagiku dalam menghadapi penolakan. Meski sedih (tentu saja), tapi kalimat penolakan itu justru menguatkanku. Dia menjelaskan nilai-nilai pada diriku dengan sangat baik. Dia menghargai nilai-nilai ini dan mendorong aku untuk terus berusahan yang terbaik. Orang-orang yang selaras dengan nilaiku, akan memilihku. Meski bukan dia.


Setelah dipertimbangkan, nampaknya kita-kita yang merasa ditolak ini sebetulnya bukan tidak diterima. Hanya tidak cocok saja dengan nilai mereka. Tidak match dengan preferensi seseorang, baik personal atau professional.


Jadi, sedihlah seperlunya saja. Jangan redup hanya karena seseorang tidak ingin terang bersama kita. 


Keep shining! Let someone find you and value your worth.

Tidak ada komentar